Cak Nun: Memilihkan Sekolah untuk Anak Harus Menentukan Capaian dan Targetan dulu

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman mengunjungi pengajian bertajuk Ngaji Bareng Caknun dan Kyai Kanjeng yang diselenggarakan di lapangan samping Pondok Al-Falah, Grogol, Sidomukti, Salatiga. Acara tersebut merupakan haul ke-1 dari KH. M. Zoemri RWS, pengasuh Pondok Al-Falah. Sebagaimana tajuk sebagaimana disebutkan di atas, acaranya merupakan acara pengajian bersama Emha Ainun Najib atau yang lebih dikenal dengan panggilan Cak Nun.

Ada satu hal yang masih saya ingat. Dalam acara tersebut, saya melihat ada 2 atau 3 layar screen dan LCD proyektor yang disediakan oleh panitia agar pengunjung yang berada di kejauhan dari panggung bisa melihat. Layar screen tersebut berwarna putih sebagai media untuk menangkap tampilan dari LCD proyektor. Namun, yang ingin saya bahas bukan masalah layar screennya warna apa, ukuran berapa, dan juga bukan masalah LCD-nya merek apa, beli dimana, harga berapa, dsb. 😀

Yang ingin saya tuliskan disini adalah salah satu sesi yang ada saat acara tersebut. Ketika sesi tanya jawab, ada seorang yang bertanya dan minta solusi mengenai anaknya yang sedang mondok di pesantren di Gontor. Ibu tersebut menuturkan dengan kondisi anaknya yang mondok itu sangat krasan (betah), serta beberapa kondisi lainnya. Saya agak lupa detail pertanyaannya karena ramai jadi kurang fokus menyimak. 😀

Namun, yang ingin saya sampaikan ini bukan masalah pertanyaan dari ibu tersebut. Namun, jawaban dari Cak Nun atas pertanyaan dari ibu tersebut.

Cak Nun menuturkan bahwa sebelum orang tua memilihkan anak ke sebuah pesantren atau suatu lembaga pendidikan, hendaknya orang tua menentukan dulu target atau capaian yang ingin didapatkan ketika anak masuk di lembaga tersebut. Entah ingin mencapai pemahaman keilmuan agamanya, akhlaqnya, kehidupannya yang prihatin, agar bisa meneladani sorang kyai di sebuah pesantren, ingin mendapatkan keberkahan atau capaian-capaian yang lain. Karena capaian atau targetan itulah yang menjadi acuan dari orang tua menentukan masa depan si anak.

Anak bisa diibaratkan sebagai kertas putih bersih, dan orang tuanyalah yang menentukan kertas tersebut akan diisi tulisan apa. Hal ini bisa dikaitkan dengan hadist dari Rasulullah Saw yang menyebutkan bahwa orang tuanya-lah yang membuat si anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Stephen R Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People menyebutkan salah satu dari kebiasaan orang efektif adalah begin with the end in mind, atau memulai sesuatu dengan berpikir di akhirnya. Ketika sudah menentukan target akhirnya, maka proses untuk menjalani suatu fase akan lebih terarah.

Menentukan target dan capaian inilah yang perlu diperhatikan oleh orang tua untuk mengarahkan anaknya menjadi sosok yang seperti apa.

Udah itu aja ya… semoga bermanfaat.

Maaf kalau garing. 😀

Iklan

About afiksa

Student of Marmara University, Istanbul, Turkey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: