Fenomena Alone Together, Apakah Anda Termasuk yang Mengalami dan melakukannya?

Fenomena Alone Together, Apakah Anda Termasuk yang Mengalami dan melakukannya?

Setiap individu dalam sebuah keluarga tentunya memiliki aktivitas atau kesibukan masing-masing, misalnya ayah bekerja, anak sekolah, dan ibu beraktivitas di rumah atau di luar rumah. Setelah selesai kesibukan masing-masing, mereka akan kembali ke rumah untuk melakukan aktivitas bersama seperti makan malam, ngobrol santai sekeluarga, dan canda tawa bersama sambil bercerita.

Namun, di era globalisasi ini dimana belahan bumi di Barat dan Timur bisa dijangkau dalam hitungan detik, seringkali membuat masing-masing anggota keluarga sibuk dengan gadget yang bisa membawanya ke berbagai belahan dunia dan bisa berinteraksi dengan siapapun. Dari ayahnya yang bermain laptop, ibunya whatsapp-an dengan teman-temannya, dan si anak yang sibuk facebook-an dengan teman-teman sekolahnya. Ibarat kata, teknologi bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Aktivitas tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika aktivitas tersebut menjadikan interaksi dalam keluarga menjadi kurang berkualitas yang kemudian menjadikan fenomena dalam keluarga menjadi alone together. Alone together adalah fenomena dimana orang merasa sendirian secara psikologis. Meskipun secara fisik saling berdampingan, namun minim interaksi atau bahkan tidak ada interaksi.

Sebagaimana dikutip dari Tempo, BMI Research dalam penelitiannya di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, menyebutkan bahwa dalam 12 jam sehari, 9 dari 10 ayah sibuk bekerja dan 9 dari 10 anak menghabiskan waktunya dengan kegiatan ekstrakurikuler setelah jam sekolah. Sedangkan 2 dari 10 ibu menghabiskan waktunya di luar rumah. Dari survei tersebut, hanya ada sedikit waktu yang diluangkan secara konsisten bersama keluarga.

Ada dua faktor yang mendukung tumbuh kembang seorang anak, yaitu faktor genetik yang memberikan pengaruh 30 persen dan faktor lingkungan yang memberikan pengaruh 70 persen. Dari hal tersebut, lingkungan memegang peran penting dalam proses tumbuh kembang anak. Oleh karenanya, peran keluarga sebagai lingkungan utama yang berperan aktif dalam proses tumbuh kembang anak.

Efnie Indiranie, seorang psikolog anak, menuturkan bahwa hal yang terpenting dalam kebersamaan keluarga adalah soal kualitas agar emotional attachment satu sama lain semakin tinggi. Kualitas kebersamaan dapat menghasilkan memori baik bagi anak dan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Efnie menambahkan bahwa untuk mendekatkan diri dengan keluarga, banyak cara kreatif yang dapat dilakukan kaum ibu. Misalnya ibu bisa membuat menu masakan yang unik. Untuk melihat apakah kebersamaan dengan keluarga sudah cukup terjalin, indikatornya adalah apakah anak akan merasa rindu atau kehilangan saat orang tua sedang tidak di rumah. Atau apakah justru anak merasa bebas dan merdeka saat tidak ada orang tua di rumah.

Hal inilah yang perlu diwaspadai terkait dengan banyaknya fenomena alone toghether dalam keluarga. Titik awal dalam menciptakan kebersamaan adalah kasih sayang untuk memunculkan perilaku tulus. Ketulusan orang tua dapat dilihat dari perilaku orang tua yang dapat menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana bisa menjadi pendengar yang baik jika interaksinya saja tidak ada?

Orang tua harus sadar betul pentingnya mendampingi anak-anak, mendengarkan cerita mereka, memberikan perhatian dan menjadikan dirinya sebagai sosok idola atau teladan bagi anak-anaknya. Perkembangan teknologi tidak boleh menjadikan efek negatif dalam keluarga.

Iklan

About afiksa

Student of Marmara University, Istanbul, Turkey

2 comments

  1. itulah fenomena di era sekarang… sangat disayangkan

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: