Gerhana, Euforia, dan Refleksi

Gerhana Matahari Total (GMT) tadi pagi, 9 Maret 2016 disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya orang tua, anak-anak pun pada antusias menyaksikannya. Ada yang khusyu’ ikut shalat gerhana, ada yang memantau dari awal sampai gerhana total, dan ada yang sekedar ikut-ikutan euforianya yang sangat luar biasa.

Hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Indonesia saja namun tidak sedikit wisatawan mancanegara yang secara khusus ingin menyaksikan fenomena alam ini dengan datang ke Indonesia.

Gerhana merupakan fenomena alam yang harus disikapi dengan keimanan.

Dan terlepas dari beberapa sikap masyarakat, saya ingin coba share tulisan yang menurut saya bagus, yaitu tulisan dr Prof.Joni Hermana, Rektor ITS.

******
Pagi ini, semua mata tertuju ke negara kita. Alhamdulillah kita menjadi satu-satunya negara yang dilewati peristiwa yang hanya akan berulang sekian tahun bahkan mungkin puluh tahun sekali…gerhana matahari.

Sejenak, sinar matahari akan meredup lalu gelap gulita, bukan karena gelap itu ada, tetapi hal itu disebabkan oleh ketiadaan cahaya. Cahaya mataharinya ada tetapi bumi menjadi gelap karena terhalang oleh kehadiran bulan.

Saya jadi teringat apa telah disampaikan Albert Einstein ketika menyanggah pendapat profesornya. Dialah mengatakan bahwa gelap itu tidak ada, sebab yang ada hanyalah ketiadaan cahaya. Dingin itu tidak ada, yang ada adalah karena ketiadaan panas. Kejahatan itu tidak ada, yang ada adalah ketiadaan kebaikan dalam diri kita.

Makna filosofisnya adalah bahwa Allah itu tidak menciptakan kejahatan, Allah hanya menciptakan kebaikan, dan kalaupun terjadi tindak kejahatan, maka itu terjadi karena kita sendirilah yang menutupi kebaikan itu sendiri. Kebenaran selalu berasal dari Allah dan kesalahan selalu berasal dadi kita sendiri, sebagai makhluk yang lemah…

Karena itu berusahalah untuk memelihara berkas cahaya Illahi dalam diri dan hati kita. Sebab hanya dengan begitulah, kita tetap akan tetap terjaga dalam jalan yang benar, jalan yang lurus yang menyelamatkan diri kita di dunia dan akhirat

Ada 3 tanda yang akan memastikan bahwa masih ada cahaya Ilahi dalam diri kita. Maka periksalah dan berintrospeksi diri agar kita mampu menjaganya:

1. Ketika kita menerima kebenaran, kita langsung menerimanya sehingga kita bisa membedakan mana yang hak mana yang bathil.

2. Ketika setelahnya hati kita mampu melihat meyakininya dan itu menjadi keyakinan yang tidak terpatahkan.

3. Ketika kemudian kita diberi ilham bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan kita, padahal orang lain mungkin tidak pernah terlintas ide tersebut sedikitpun…

Semoga pembelajaran gerhana ini memberi nilai tambah bagi diri kita untuk menjadi lebih baik dari kemarin dan yang dulu2…

Semoga Allah meringankan jalan yang kita tempuh sehingga selamat dunia akhirat. Aamiin

Iklan

About afiksa

Student of Marmara University, Istanbul, Turkey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: